April 19, 2012

Jakarta Panggung Absurditas

Ditengah keisengan jam kerja, seperti biasa saya ngeblogwalking. Dan waktu buka homepage, agak tertarik sama artikelnya Yahoo; Jakarta Panggung Absurditas.


Isi artikelnya emang beneran ngegambarin Jakarta banget. Walaupun saya baru kenal sama Jakarta sebagai tempat aktifitas saya setiap hari.
Dilihat dari judulnya aja udah ada kata 'absurd', yang artinya.. ya kalian pasti tau artinya apa.
Kalau enggak tau, harusnya kamu waktu ujian nasional engga lulus di mata pelajaran english (--,)

Di artikel itu diceritain mudahnya kita ketemu sama hal absurd, di Jakarta.
Yaps! bener banget, trotoar buat pejalan kaki dipake buat jalan raya bagi pengendara motor. Lampu lalu lintas yang gagal buat mengatur jalanan, belum lagi ditambah pengendara motor yang melawan arus.

Disini itu kesannya aturan dibuat untuk dilanggar, bahkan sama yang buatnya sendiri. Akhirnya masalah yang timbul itu jadi suatu kebiasaan rutin dan normal.

Jakarta yang enggak macet, itulah saat Jakarta enggak normal.
"Jakarta adalah labirin kacau dengan kawasan kumuh, gedung pencakar langit yang berkilauan, dan jalan tol di sana-sini, diselimuti awan polusi raksasa yang terjebak dalam kemandekan tanpa harapan" - Daniel Ziv, dalam bukunya; Jakarta Inside Out.
"Diselimuti awan polusi", ya bener. Itu kerasa banget, berbanding kondisinya sama waktu saya masih stay di Bandung, jelas sangat berbanding. Dan mungkin saya ikutan absurd juga kenapa saya malah mau beraktifitas di sini. Saya yang belum lama aja udah ngerasa risih. Enggak habis pikir sama yang udah lama tinggal di sini, mereka kok betah ya sama polusi yang sebegininya tanpa melakukan perubahan. Di sini sedikit banget ruang hijau, mereka dipangkas. Yang akhirnya menyebabkan banjir, dan susahnya air bersih.

Inget banget bawelnya a onyet waktu distro dia ikut event di Jakarta, di Jakcloth.
"Je, ini polusi udah parah banget. Kok orang sini pada betah ya. Liat, aku keringetan aja kerasa banget ini debu-debu nempel".
Rasanya waktu dia bawel gitu, saya pengen nyuruh dia dandan dan pake rok. Manja banget! =))

Tapi, ini kutipan yang saya suka dari artikel itu:
"Sering kali adalah sebuah keajaiban bahwa tempat ini dapat berdetak. Tetapi ia memang terus-menerus berdetak. Dengan sangat gila. Jakarta adalah kota dalam krisis, tetapi ia juga menyediakan kesempatan yang begitu besar. Jakarta adalah kota putus asa, yang juga sebaliknya menyediakan harapan"
Dan mungkin itu alasan kenapa waktu saya ingin kerja di Bandung, ayah nyuruh saya berhasil dulu di sini. Di kota yang justru orang lain banyak menggantung harapan di sini.
Rasanya emang pengen balik lagi ke Bandung, tapi ya mau gimana lagi :')

Bandung, i love you. Jakarta, make me to loving you too ya..

1 comment:

  1. setdaaaaah... gitu amat si non lingkungan jakarte, ngtain bawel

    ReplyDelete